Akad Mudharabah Menjadi Akad Yang Paling Berisiko Dari Akad Lainnya

Senin, 01 Juli 2013 10:57 WIB

Berita UMM
Wiroso (Anggota Dewan Standar Akuntansi Syari'ah) saat menyamapikan materi

Jum’at 28/06/2013. Sesi terakhir pelatihan ini dimulai lebih awal dari sebelumnya, tanpa pembukaan dan ice breaking materi disampaikan dengan lugas oleh wiroso mengenai serba-serbi akuntansi mudharabah, musyarakah, istishna’, ijarah. Pedoman dari aplikasi akuntansi syari’ah adalah PSAK syari’ah 101-109 yang meruapakan kesatuan dan pelengkap PSAK umum, PSAK ini menjelaskan secara rinci seluruh transaksi akad syari’ah. Misalnya, pada PSAK 105 menjelaskan akad mudharabah ialah suatu akad kerja sama kemitraan antara penyedia dana usaha (shahibul maal) dengan pengelola dana (mudharib) utnuk memperoleh hasil usaha dengan pembagian hasil usaha sesuai porsi (nisbah) yang disepakati bersama pada awal.

Dasar perhitungan bagi hasil yang diterapkan pada akuntansi syari’ah adalah pendapatan usaha utama yang benar-benar diterima oleh mudharib dikarenakan syari’ah tidak mengenal time value of money, seperti penjelasan dalam QS. Al – Lukman: 34 “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok* Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.  

Prinsip kemaslahatan yang dimaksud dalam akuntansi syari’ah sangat luas, sebab harus memperhatikan segi akidah, keimanan ketakwaan, intelek, keturunan, jiwa, keselamatan dan harta benda. Sebagai contoh ada 2 saudara yang sama-sama melakukan akad mudharabah, pada saat perhitungan bagi hasil berdasarkan pendapatan yang benar-benar diperoleh dikalikan dengan nisbah yang disepakati, ternyata saudara 1 mendapatkan bagi hasil lebih besar dari saudara 2. Saudara 1 pada bulan tersebut akan menyekolahkan 2 anaknya ke perguruan tinggi. Lain hal nya dengan saudara 2, yang akan menyekolahkan anak nya di Taman kanak-kanak. Jika saudara 2 mendapat bagi hasil yang sama dengan saudara 1 belum tentu dana tersebut dimanfaatkan dengan baik. Dari dua kegiatan ini memberikan gambaran bahwa “sebenarnya Allah SWT memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan”, Jelas wiroso.

Akad mudharabah menjadi akad yang paling berisiko dari akad lainnya karena merupakan akad pembiayaan yang tidak mewajibkan mudharib nya mengembalikan pokok pembiayaan. Akad mudharabah yang saat ini banyak digunakan dalam lembaga keuangan syari’ah adalah jenis mudharabah musytarakah. Yakni, pengelola dana (berdasarkan akad mudharabah) menyertakan juga dananya dalam investasi bersama (berdasarkan akad musyarakah) pemilik dana musyarakah (musytarik) memperoleh bagian hasil usaha sesuai porsi dana yang disetorkan. Pembagian hasil usaha antara pengelola dana dan pemilik dana dalam mudharabah adalah sebesar hasil usaha musyarakah setelah dikurangi porsi pemilik dana sebagai pemilik dana musyarakah. “akad ini banyak digunakan karena bank syari’ah tidak mendanai perusahaan baru (baru berdiri)” terangnya.

Penjelasan terakhir dari wiroso, mengenai gadai dan jual beli valuta asing. Gadai dalam akuntansi syari’ah dikenal dengan akad rahn, yakni menjadikan harta sebagai penguat terhadap hutang agar dapat dipenuhi dari harganya jika hutang tersebut tidak dapat dibayar dari orang yang berhutang. Sedangkan akad sharf merupakan akad jual beli valuta asing. Transaksi ini pada bank syari’ah dilakukan untuk tujuan lindung nilai (hedging) dan tidak dibenarkan untuk tujuan spekulatif.

Selepas sholat jum’at dengan uji kompetensi yang dipandu oleh panitia, dimaksudkan untuk mengetahui seberapa dalam pemahaman peserta selama 3 hari pelatihan berlangsung. Uji kompetensi berlangsung selama 75 menit dengan 30 pertanyaan pilihan ganda dan 1 soal studi kasus. Dilanjutkan dengan closing ceremony yang dikemas secara non formal oleh panitia, berisi beberapa prakata dari pemateri, Sek. Prodi. Akuntansi atas nama Ketua Prodi, dan salah satu peserta pelatihan. Pesan Wiroso “ jangan berhenti belajar akuntansi syari’ah sampai di pelatihan ini. Baca dan kaji ulang materi serta buku yang terkait agar semakin dalam pemahaman kalian”.

Adi berpesan, “ akhir dari pelatihan ini adalah awal langkah kalian untuk mengembangkan diri dalam bidang ini, selamat berjuang”, tegas Sek. Prodi. Akuntansi ini. Pesan dan kesan dari Alfonsina selaku peserta SC. Akuntansi Syari’ah, “ saya senang bisa mengikuti pelatihan ini, materi nya menjadikan saya lebih paham tentang akuntansi syari’ah yang sebelumnya sudah saya dapat di perkuliahan, semoga saya dan teman-teman dapat mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari “.

Seperti biasa, di pelatihan-pelatihan yang diadakan lab-akuntansi selalu dipilih beberapa peserta terbaik untuk memotivasi mahasiswa menjadi lebih baik lagi. Peserta terbaik diberikan kepada 3 mahasiswa terpilih, Adi Surachman, Rosita Eka Pratiwi dan Muhammad Ghazali Sapwan.

*Maksudnya: manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya esok, namun demikian mereka diwajibkan berusaha.


Berita UMM Berita UMM
Wiroso (Pemateri), Adi Prasetyo (Sek. Prodi. Akuntansi), Lintang Purnamasari (Kap. Divisi Litbang Lab-Akuntansi) dan 3 Peserta Terbaik Wiroso dan Panitia SC Akuntansi Syari'ah

 

Shared: